RSS

Publikasi Jurnal Bukan “Blogging”

20 Feb

Sebelumnya maaf kalau saya ngomongnya tentang jurnal terus akhir-akhir ini, tapi saya hanya ingin meluruskan miskonsepsi beberapa orang mengenai ‘publikasi’ yang dimaksud oleh DIKTI.

Yang dimaksud dengan ‘publikasi’ di sini adalah menerbitkan artikel ilmiah di jurnal ilmiah (nasional/regional/internasional). Jurnal ilmiah sendiri merujuk pada kumpulan tulisan yang penerimaan artikelnya berdasarkan ‘peer-review’. Duh, saya kurang ahli kalau ditanya definisi, jadi saya deskripsikan begitu. Kata kuncinya adalah ‘peer-review’. Artinya tidak semua artikel atau tulisan pasti diterima, karena hasil dari reviewtadi belum tentu hijau. Dengan berbagai alasan, silakan merujuk ke tulisan saya yang ini.

Jurnal-jurnal ilmiah seperti ini biasanya memiliki 2 versi, versi online dan versi cetak. Untuk jurnal internasional, versi online selalu yang banyak dipilih untuk berlangganan (iya, berlangganan), karena letak geografis penulis dan editornya yang berjauhan. Ketika tulisan kita dinyatakan “available online”, itu artinya kita sudah melewati prosesreview, revisi, dan akhirnya diterima. Banyak yang salah tangkap disini, bahwa publikasi online (pilihan katanya sebenarnya tidak tepat) sama dengan blogging atauposting di Kompasiana. No, big no no. Publikasi jurnal bukan blogging, dan mem-posting tulisan ilmiah kita di blog itu tidak terhitung publikasi, it is just a mere sharing. Walaupun medianya sama-sama online.

Jurnal-jurnal ilmiah biasanya punya persyaratan copyrights, dan karena adanya ‘peer-review’; insiden ‘copy-paste’ bisa diminimalkan (saya katakan diminimalkan, bukan benar-benar tidak ada).

Potensi masalah yang muncul untuk soal persyaratan publikasi di Indonesia ini adalah:

  1. Tidak semua pelaku di dunia akademis mengerti esensi publikasi dan bagaimana mempublikasikan artikel ilmiah di jurnal,
  2. Tidak semua pelaku di dunia akademis memiliki standar kemampuan atau pengetahuan yang sama untuk menulis artikel ilmiah,
  3. Jumlah jurnal di Indonesia yang bisa jadi tidak bisa mengimbangi jumlah mahasiswa (sudah pernah dibahas kalau tidak salah),
  4. Jumlah reviewer yang juga terbatas.

Jurnal-jurnal yang diterbitkan di Indonesia bisa dilihat disini. Memang keterbatasan jumlah jurnal nantinya akan menjadi masalah, dan mungkin banyak universitas yang akan menerbitkan jurnal sendiri. Ini bisa berarti bagus dan juga tidak. Bagus di sisi mendorong universitas untuk menerbitkan jurnal berkualitas, di sisi lain juga kekhawatiran nanti banyak jurnal-jurnal ‘gurem’ alias hanya asal terbit. Tapi saya kira yang dimaksud oleh DIKTI dengan jurnal nasional yang memiliki ISSN. Jika iya, proses ‘pembuatan’ jurnal baru ini pun tidak sederhana, harus melewati proses yang disyaratkan LIPI.

Saya tidak pesimis dengan kemampuan mahasiswa Indonesia untuk menulis artikel ilmiah, saya hanya melihat banyak yang belum mengerti benar konsep publikasi ini. Jadi PR kita bersama bukan?

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/15/publikasi-jurnal-bukan-%E2%80%9Cblogging%E2%80%9D/ (15 Februari 2012)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 20, 2012 in LP2M

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: